{"id":907,"date":"2019-11-05T07:03:03","date_gmt":"2019-11-05T07:03:03","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/smpadzkia\/?page_id=907"},"modified":"2019-11-05T07:46:54","modified_gmt":"2019-11-05T07:46:54","slug":"teori-big-bang-perspektif-al-quran","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/portfolio\/teori-big-bang-perspektif-al-quran\/","title":{"rendered":"Teori Big Bang Perspektif Al-Qur\u2019an"},"content":{"rendered":"\n<p>Selama\nratusan tahun, para ilmuwan meyakini kekekalan langit dan bumi, tidak bermula\ndan tidak berakhir, yang mereka istilahkan <em>Steady\nState Theory<\/em>. Di penghujung abad ke-20 sains modern mengungkapkan kenyatan\nbahwa manusia hidup di alam yang berkembang dan berubah, bermula dan akan\nberakhir. Mereka mengamati fenomena mengejutkan bahwa matahari setiap detik\nkehilangan massa sekitar 4,6 miliar ton yang berubah menjadi energi panas dan\nberpindahnya energi panas dari benda panas ke benda dingin. Hal ini meyakinkan\nmereka bahwa alam semesta ini suatu saat akan musnah, entah kapan, mereka tidak\nmampu menjawabnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka\npun merumuskan teori-teori awal terciptanya alam semesta dan tidak ada satupun\nyang diterima karena tidak bisa menjelaskannya secara ilmiah kecuali sebuah\nteori yang dikuatkan oleh para ilmuwan, yaitu teori ledakan besar <em>(Big Bang Theory)<\/em>. Teori ini menyatakan\nbahwa alam semesta ini awalnya berasal dari gumpalan massa yang sangat padat\ndan panas. Kemudian karena tekanan panas yang memuncak, massa ini mengalami\nledakan besar (big bang) menjadi serpihan-serpihan alam semesta: tata surya,\ngalaksi, nebula, planet, dan sebagainya yang terus mengembang. Ledakan ini\ndiperkirakan terjadi sekitar 15 milyar tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekarang\nkita bandingkan teori ini dengan ayat Al-Qur\u2019an :<\/p>\n\n\n\n<p>\u0623\u064e\u0648\u064e\u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0631\u064e \u0627\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0643\u064e\u0641\u064e\u0631\u064f\u0648\u0627 \u0623\u064e\u0646\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0633\u064e\u0651\u0645\u064e\u0627\u0648\u064e\u0627\u062a\u0650\n\u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0631\u0652\u0636\u064e \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e\u062a\u064e\u0627 \u0631\u064e\u062a\u0652\u0642\u064b\u0627 \u0641\u064e\u0641\u064e\u062a\u064e\u0642\u0652\u0646\u064e\u0627\u0647\u064f\u0645\u064e\u0627 \u0648\u064e\u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0627\u0621\u0650 \u0643\u064f\u0644\u064e\u0651\n\u0634\u064e\u064a\u0652\u0621\u064d \u062d\u064e\u064a\u064d\u0651 \u0623\u064e\u0641\u064e\u0644\u064e\u0627 \u064a\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646\u064f\u0648\u0646\u064e<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cDan\napakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu\nmenyatu kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan Kami jadikan segala sesuatu\nyang hidup berasal dari air, maka mengapa mereka tidak beriman?\u201d<a href=\"#_ftn1\"><strong>[1]<\/strong><\/a><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Al-Hafizh\nIbnu Katsir (W. 774 H) memberikan penjelasan yang menakjubkan tentang ayat ini,\n\u201cmaksudnya,semua benda dahulunya saling merekat, menyatu dan tersusun satu sama\nlain. Kemudian langit-langit Allah jadikan tujuh dan bumi pun tujuh. Allah\nmemisah langit dunia dan bumi dengan udara. Lalu langit menurunkan hujan dan\nbumi menumbuhkan tanaman. Oleh karena itu, Allah berfirman <em>\u201cDan kami jadikan kehidupan segala sesuatu dari air. Maka, apakah\nmereka tidak beriman?\u201d<\/em> Maksudnya, apakah mereka tidak menyaksikan\nmakhluk-makhluk ini terjadi dari fase ke fase yang menunjukkan keberadaan Sang\nPencipta yang Mahakuasa atas segala sesuatu. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sufyan\nats-Tsauri berkata, dari ayahnya, dari Ikrimah, dia berkata, Ibnu Abbas pernah\nditanya, apakah tercipta nalam dulu atau siang? Lalu menjawab, \u2018Bagaimana menurutmu\nkeadaan saat langit-langit dan bumi menyatu, bukankah yang ada diantara\nkeduanya hanya kegelapan?\u2019Akhirnya mereka pun tahu malam lebih dahulu daripada\nsiang.\u201d\u2019<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ayat-ayat\nal-Qur\u2019an selalu mendahului lafazh malam daripada siang yang menunjukkan\nketepatan tafsiran <em>Tarjamatul Qur\u2019an<\/em>\nIbnu \u2018Abbas <em>radhiyallahu \u2018anhuma<\/em>.\nMisalnya firman Allah SWT :<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cDan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Yang menakjubkan lagi, ternyata\nsains modern juga menyebutkan hal yang sama, malam lebih dahulu ada sebelum siang.\nNamun, anehnya Bibel menyebutkan kebalikannya, sehingga gereja-gereja abad\nsilam menfatwakan bahwa para ilmuwan yang menyatakan malam ada sebelum siang\nuntuk dibunuh dan dipenjara.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika ada yang bertanya, \u2018Apakah\nayat ini boleh disebut ayat big bang?\u201d jawabannya, tidak boleh. \u201cbukankan\nsesuai sekali dengan teori big bang?\u201d ini pertanyaanya bagus sekali dan\npenjelasannya sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p>Ayat hanya memberi informasi bahwa\nlangit dan bumi pernah menyatu. Adapun teori big bang, di samping menyebutkan\nlangit dan bumi menyatu juga menyebutkan hal-hal lainnya yang sama sekali tidak\ndijelaskan nash. Oleh karena itu, kita membenarkan penelitian mereka bahwa\nlangit dan bumi pernah menyatu karena sesuai dengan nash, tetapi kita\nmengingkari beberapa hal dalam teori ini, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ol><li>Perkiraan usia alam semesta 15 miliar.<\/li><li>Konsekuensi big bang bahwa bumi tercipta bersamaan atau sebelum langit,\nmatahari dan benda angkasa lainnya.<\/li><li>Klain mereka bahwa bumi mengelilingi matahari karena bumi terbuat dari\npecahan matahari.<\/li><li>Klaim mereka bahwa sebelum peristiwa big bang belum ada materi dan\nenergy.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Fakta ilmiah yang dipublikasikan\npara ilmuwan terutama orang Barat, diperlakukan sama dengan kabar isra\u2019iliyat\ndari ahli kitab. Para ulama, diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam <em>Ushul fit Tafsir<\/em> dan Ibnu Katsir dalam\nmuqaddimah kitab tafsirnya, menjelaskan 3 keadaan dalam menyikapi kabar\nisra\u2018iliyat ini:<\/p>\n\n\n\n<ol><li>Jika kabar itu sesuai dengan kabar nash (al-Qur\u2019an dan Sunnah) maka\nditerima dan dibenarkan.<\/li><li>Jika kabar itu bertentangan dengan kabar nash maka ditolak dan\ndidustakan.<\/li><li>Jika kabar tersebut tidak dibenarkan nash dan tidak pula didustakan, maka\nkabar tersebut disikapai <em>tawaqquf <\/em>(tidak\ndibenarkan tetapi juga tidak didustakan), karena boleh jadi benar sehingga\ntidak mendustakannya dan boleh jadi dusta sehingga tidak membenarkannya.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>\n\n\n\n\n\nSemua yang disebutkan\ndi atas menyelisishi nash shahih sehingga kita menyikapinya seperti menyikapi\nkabar Bani Isra\u2019il poin ke-2, yaitu mendustakannya dan tidak menerimanya.\nAdapun konsekuensi hukum dari teori ini yang tidak didustakan nash dan tidak\npula dibenarkan, maka disikapi dengan poin ke-3, misalkan konsekuensi hukum\nbahwa teori ini secara tidak langsung memberi pemahaman bahwa benda-benda\nlangit semuanya tercipta dari gumpalan massa yang super panas tersebut;\nterdapat banyak galaksi di luar galaksi kita yang tak terhitung jumlahnya; dan\nseterusnya.\n\n<br><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selama ratusan tahun, para ilmuwan meyakini kekekalan langit dan bumi, tidak bermula dan tidak berakhir, yang mereka istilahkan Steady State Theory. Di penghujung abad ke-20 sains modern mengungkapkan kenyatan bahwa manusia hidup di alam yang berkembang dan berubah, bermula dan akan berakhir. Mereka mengamati fenomena mengejutkan bahwa matahari setiap detik kehilangan massa sekitar 4,6 miliar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":912,"parent":52,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":[],"rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/al-quran-20180609-125908-5c08bd5343322f769a336a94-1.jpg",350,196,false],"landscape":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/al-quran-20180609-125908-5c08bd5343322f769a336a94-1.jpg",350,196,false],"portraits":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/al-quran-20180609-125908-5c08bd5343322f769a336a94-1.jpg",350,196,false],"thumbnail":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/al-quran-20180609-125908-5c08bd5343322f769a336a94-1-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/al-quran-20180609-125908-5c08bd5343322f769a336a94-1-300x168.jpg",300,168,true],"large":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/al-quran-20180609-125908-5c08bd5343322f769a336a94-1.jpg",350,196,false],"1536x1536":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/al-quran-20180609-125908-5c08bd5343322f769a336a94-1.jpg",350,196,false],"2048x2048":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/al-quran-20180609-125908-5c08bd5343322f769a336a94-1.jpg",350,196,false],"elearning-education-featured-image":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/al-quran-20180609-125908-5c08bd5343322f769a336a94-1.jpg",350,196,false],"elearning-education-thumbnail-avatar":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/al-quran-20180609-125908-5c08bd5343322f769a336a94-1.jpg",100,56,false]},"rttpg_author":{"display_name":"admin","author_link":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/author\/admin\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":null,"rttpg_excerpt":"Selama ratusan tahun, para ilmuwan meyakini kekekalan langit dan bumi, tidak bermula dan tidak berakhir, yang mereka istilahkan Steady State Theory. Di penghujung abad ke-20 sains modern mengungkapkan kenyatan bahwa manusia hidup di alam yang berkembang dan berubah, bermula dan akan berakhir. Mereka mengamati fenomena mengejutkan bahwa matahari setiap detik kehilangan massa sekitar 4,6 miliar&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/907"}],"collection":[{"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=907"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/907\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":909,"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/907\/revisions\/909"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/52"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/912"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=907"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}