{"id":902,"date":"2019-11-05T06:56:16","date_gmt":"2019-11-05T06:56:16","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/smpadzkia\/?page_id=902"},"modified":"2019-11-05T07:46:37","modified_gmt":"2019-11-05T07:46:37","slug":"sejarah-terbentuknya-tahun-hijriah","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/portfolio\/sejarah-terbentuknya-tahun-hijriah\/","title":{"rendered":"Sejarah Terbentuknya Tahun Hijriah"},"content":{"rendered":"\n<p>Tahun baru Islam atau yang biasa dikenal dengan sebutan tahun baru Hijriah lahir dari Gagasan beberapa tokoh muslim, diantara mereka adalah Abu Musa Al-Asya\u2019ri, Sayyidina Umar ibnu Khottob dan Ali bin Abi Tholib.<\/p>\n\n\n\n<p>Muharam\nadalah bulan pertama dalam penanggalan Hijriah, Urutannya adalah Muharam,\nShafar, Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Ula, Jumadil Akhir, Rajab, Sya\u2019ban,\nRamadhan, Syawal, Dzulqaidah dan Dzulhijjah.<\/p>\n\n\n\n<p>Muharam\nberasal dari kata <em>Haroma-yuhrimu<\/em> yang\nartinya di \u2018haramkan\u201d atau di \u201cpantang\u201d, maksudnya &nbsp;secara terminologi adalah bulan pelarangan\nuntuk melakukan peperangan dan pertumpahan darah. Di antara 12 bulan Hijriah\nyang telah disebutkan di atas, ada empat bulan yang dikategorikan sebagai bulan\nharam. Bulan bulan tersebut adalah; Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharam.\nKaum muslimin dilarang melakukan pereparangan ataupun pertumpahan darah dalam\nbentuk apapun di bulan haram ini. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Baqaroh\n; 127, kemudian larangan tersebut dihapus berdasarkan surat At-Taubah ; 36.<\/p>\n\n\n\n<p>Imam\nBukhori dalam tarikhnya, sebagaimana dicatat oleh Al-hafidz Jalaluddin\nAs-Suyuti dalam <em>Tarikhul Khulafa\u2019<\/em>\ndengan riwayat dari Sa\u2019id Ibnu Musayyib Mengatakan \u201cOrang yang pertama kali\nmenggunakan tanggal Hijriah adalah Umar Ibnu Khottob. Ia menetapkannya pada\ntahun 16 Hijriah setelah diadakannya Musyawarah dengan para sahabat yang salah\nsatunya adalah Ali ibn Abi Tholib\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada\n638 Masehi, Gubernut Irak, Abu Musa Al-Asya\u2019ri mengirimkan surat kepada Khalifah\nUmar ibnu Khottab di Madinah. Di antara isinya adalah \u201cSurat-surat kita telah\nmemiliki tanggal dan bulan, tetapi tidak disertai tahun. Sudah saatnya umat\nIslam membuat tarikh sendiri dalam perhitungan tahun\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Sayyidina\nUmar menyetujui gagasan tersebut. Sebagai khalifah yang sedang menjabat pada\nsaat itu, Umar Ibn Khottob kemudian membentuk kepanitiaan untuk memusyawarahkan\npenentuan tahun pertama dalam penanggalan Hijriah. Terdapat empat sahabat yang\nterlibat&nbsp; dalam kepanitian; Utsman Ibn Affan,\nAli ibn Bin Abu Tholib, Abdurrahman bin Auf, Sa\u2019ad bin Abi Waqos, Thalhah ibn Zubair,\ndan Zubair ibn Awam.<\/p>\n\n\n\n<p>Perbincangan\ndiantara para sahabat tersebut tidak serta merta menemukan titik akhir, ada\nperdebatan dan pertikaian sengit terkait kapan seharusnya awal penanggalan\ntahun Hijriah dimulai. Ada yang mengusulkan perhitungan tahun baru di mulai\ndari kelahiran nabi Muhammad SAW. pada tahun gajah yang bertepatan dengan\ntahun&nbsp; 571 Masehi. Adapula yang mengusulkan\ntahun baru dimulai sejak turunnya wahyu pertama, tahun 610 Masehi.<\/p>\n\n\n\n<p>Perdebatan\ntersebut akhirnya berakhir dengan diterimanya gagasan dari Sayyidina Ali ibn\nTholib. Dia memberikan tiga argumentasi inti terkait urgensi dari penetapan\npenanggalan tahun baru Hijriah. Pertama, banyak penghargaan Allah bagi orang\nyang berhijrah di dalam Al-Qur\u2019an. Kedua, Masyarakat Islam yang berdaulat dan\nmandiri terwujud setelah hijrah ke Madinah. Ketiga, umat Islam sepanjang zaman\ndiharapkan selalu memiliki semangat untuk hijrah, memiliki jiwa dinamis yang\ntidak terpaku pada suatu keadaan, dan hendaknya umat islam berhijrah kepada\nkondisi yang lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya,\ndari argumentasi tersebut disepakati bahwa tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW. sebagai\ntahun baru pertama, sejak saat itulah kalender umat Islam disebut Tarikh Hijriah.<\/p>\n\n\n\n<p>Perdebatan\nbelumlah usai setelah ditetapkannya tahun baru Hijriah, perdebatan baru\nmengenai penetapan awal bulan dari Hijriah pun muncul, pada bulan apa\npenanggalan tahun baru Hijriah dimulai?. Ada yang mengusulkan Bulan Ramadhan,\nRabiul Awal dan Muharam dengan argumentasi tersendiri. Akhirnya, disepakatilah\nbulan Muharam menjadi bulan pertama dalam kalender Hijriah. Sebagaimana Umar\nibnu Khottob menyatakan \u201cMulailah dengan Muharram, Karena dibulan itu\norang-orang baru selesai dari pelaksanaan haji\u201d. Para sahabat pun\nmenyepakatinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Awal\ntahun baru Hijriah dimulai pada (1 Muharam \/ 1 Hijriah), bertepatan dengan 16\njuli 622 Masehi. Adapun keluarnya keputusan itu (638 Masehi ), ditetapkan\nsebagai tahun 17 Hijriah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tahun baru Islam atau yang biasa dikenal dengan sebutan tahun baru Hijriah lahir dari Gagasan beberapa tokoh muslim, diantara mereka adalah Abu Musa Al-Asya\u2019ri, Sayyidina Umar ibnu Khottob dan Ali bin Abi Tholib. Muharam adalah bulan pertama dalam penanggalan Hijriah, Urutannya adalah Muharam, Shafar, Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Ula, Jumadil Akhir, Rajab, Sya\u2019ban, Ramadhan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":904,"parent":52,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":[],"rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/waktu-terbaik-doa-akhir-tahun-dan-doa-awal-tahun-sambut-tahun-baru-islam-1-muharram-1441-h.jpg",700,393,false],"landscape":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/waktu-terbaik-doa-akhir-tahun-dan-doa-awal-tahun-sambut-tahun-baru-islam-1-muharram-1441-h.jpg",700,393,false],"portraits":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/waktu-terbaik-doa-akhir-tahun-dan-doa-awal-tahun-sambut-tahun-baru-islam-1-muharram-1441-h.jpg",700,393,false],"thumbnail":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/waktu-terbaik-doa-akhir-tahun-dan-doa-awal-tahun-sambut-tahun-baru-islam-1-muharram-1441-h-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/waktu-terbaik-doa-akhir-tahun-dan-doa-awal-tahun-sambut-tahun-baru-islam-1-muharram-1441-h-300x168.jpg",300,168,true],"large":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/waktu-terbaik-doa-akhir-tahun-dan-doa-awal-tahun-sambut-tahun-baru-islam-1-muharram-1441-h.jpg",525,295,false],"1536x1536":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/waktu-terbaik-doa-akhir-tahun-dan-doa-awal-tahun-sambut-tahun-baru-islam-1-muharram-1441-h.jpg",700,393,false],"2048x2048":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/waktu-terbaik-doa-akhir-tahun-dan-doa-awal-tahun-sambut-tahun-baru-islam-1-muharram-1441-h.jpg",700,393,false],"elearning-education-featured-image":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/waktu-terbaik-doa-akhir-tahun-dan-doa-awal-tahun-sambut-tahun-baru-islam-1-muharram-1441-h.jpg",700,393,false],"elearning-education-thumbnail-avatar":["https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/waktu-terbaik-doa-akhir-tahun-dan-doa-awal-tahun-sambut-tahun-baru-islam-1-muharram-1441-h.jpg",100,56,false]},"rttpg_author":{"display_name":"admin","author_link":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/author\/admin\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":null,"rttpg_excerpt":"Tahun baru Islam atau yang biasa dikenal dengan sebutan tahun baru Hijriah lahir dari Gagasan beberapa tokoh muslim, diantara mereka adalah Abu Musa Al-Asya\u2019ri, Sayyidina Umar ibnu Khottob dan Ali bin Abi Tholib. Muharam adalah bulan pertama dalam penanggalan Hijriah, Urutannya adalah Muharam, Shafar, Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Ula, Jumadil Akhir, Rajab, Sya\u2019ban, Ramadhan,&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/902"}],"collection":[{"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=902"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/902\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":905,"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/902\/revisions\/905"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/52"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/904"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/smp.adzkia.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=902"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}