Selama ratusan tahun, para ilmuwan meyakini kekekalan langit dan bumi, tidak bermula dan tidak berakhir, yang mereka istilahkan Steady State Theory. Di penghujung abad ke-20 sains modern mengungkapkan kenyatan bahwa manusia hidup di alam yang berkembang dan berubah, bermula dan akan berakhir. Mereka mengamati fenomena mengejutkan bahwa matahari setiap detik kehilangan massa sekitar 4,6 miliar ton yang berubah menjadi energi panas dan berpindahnya energi panas dari benda panas ke benda dingin. Hal ini meyakinkan mereka bahwa alam semesta ini suatu saat akan musnah, entah kapan, mereka tidak mampu menjawabnya.

Mereka pun merumuskan teori-teori awal terciptanya alam semesta dan tidak ada satupun yang diterima karena tidak bisa menjelaskannya secara ilmiah kecuali sebuah teori yang dikuatkan oleh para ilmuwan, yaitu teori ledakan besar (Big Bang Theory). Teori ini menyatakan bahwa alam semesta ini awalnya berasal dari gumpalan massa yang sangat padat dan panas. Kemudian karena tekanan panas yang memuncak, massa ini mengalami ledakan besar (big bang) menjadi serpihan-serpihan alam semesta: tata surya, galaksi, nebula, planet, dan sebagainya yang terus mengembang. Ledakan ini diperkirakan terjadi sekitar 15 milyar tahun lalu.

Sekarang kita bandingkan teori ini dengan ayat Al-Qur’an :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, maka mengapa mereka tidak beriman?”[1]

            Al-Hafizh Ibnu Katsir (W. 774 H) memberikan penjelasan yang menakjubkan tentang ayat ini, “maksudnya,semua benda dahulunya saling merekat, menyatu dan tersusun satu sama lain. Kemudian langit-langit Allah jadikan tujuh dan bumi pun tujuh. Allah memisah langit dunia dan bumi dengan udara. Lalu langit menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tanaman. Oleh karena itu, Allah berfirman “Dan kami jadikan kehidupan segala sesuatu dari air. Maka, apakah mereka tidak beriman?” Maksudnya, apakah mereka tidak menyaksikan makhluk-makhluk ini terjadi dari fase ke fase yang menunjukkan keberadaan Sang Pencipta yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

            Sufyan ats-Tsauri berkata, dari ayahnya, dari Ikrimah, dia berkata, Ibnu Abbas pernah ditanya, apakah tercipta nalam dulu atau siang? Lalu menjawab, ‘Bagaimana menurutmu keadaan saat langit-langit dan bumi menyatu, bukankah yang ada diantara keduanya hanya kegelapan?’Akhirnya mereka pun tahu malam lebih dahulu daripada siang.”’

            Ayat-ayat al-Qur’an selalu mendahului lafazh malam daripada siang yang menunjukkan ketepatan tafsiran Tarjamatul Qur’an Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Misalnya firman Allah SWT :

“Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.”

Yang menakjubkan lagi, ternyata sains modern juga menyebutkan hal yang sama, malam lebih dahulu ada sebelum siang. Namun, anehnya Bibel menyebutkan kebalikannya, sehingga gereja-gereja abad silam menfatwakan bahwa para ilmuwan yang menyatakan malam ada sebelum siang untuk dibunuh dan dipenjara.

Jika ada yang bertanya, ‘Apakah ayat ini boleh disebut ayat big bang?” jawabannya, tidak boleh. “bukankan sesuai sekali dengan teori big bang?” ini pertanyaanya bagus sekali dan penjelasannya sebagai berikut:

Ayat hanya memberi informasi bahwa langit dan bumi pernah menyatu. Adapun teori big bang, di samping menyebutkan langit dan bumi menyatu juga menyebutkan hal-hal lainnya yang sama sekali tidak dijelaskan nash. Oleh karena itu, kita membenarkan penelitian mereka bahwa langit dan bumi pernah menyatu karena sesuai dengan nash, tetapi kita mengingkari beberapa hal dalam teori ini, yaitu:

  1. Perkiraan usia alam semesta 15 miliar.
  2. Konsekuensi big bang bahwa bumi tercipta bersamaan atau sebelum langit, matahari dan benda angkasa lainnya.
  3. Klain mereka bahwa bumi mengelilingi matahari karena bumi terbuat dari pecahan matahari.
  4. Klaim mereka bahwa sebelum peristiwa big bang belum ada materi dan energy.

Fakta ilmiah yang dipublikasikan para ilmuwan terutama orang Barat, diperlakukan sama dengan kabar isra’iliyat dari ahli kitab. Para ulama, diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Ushul fit Tafsir dan Ibnu Katsir dalam muqaddimah kitab tafsirnya, menjelaskan 3 keadaan dalam menyikapi kabar isra‘iliyat ini:

  1. Jika kabar itu sesuai dengan kabar nash (al-Qur’an dan Sunnah) maka diterima dan dibenarkan.
  2. Jika kabar itu bertentangan dengan kabar nash maka ditolak dan didustakan.
  3. Jika kabar tersebut tidak dibenarkan nash dan tidak pula didustakan, maka kabar tersebut disikapai tawaqquf (tidak dibenarkan tetapi juga tidak didustakan), karena boleh jadi benar sehingga tidak mendustakannya dan boleh jadi dusta sehingga tidak membenarkannya.

Semua yang disebutkan di atas menyelisishi nash shahih sehingga kita menyikapinya seperti menyikapi kabar Bani Isra’il poin ke-2, yaitu mendustakannya dan tidak menerimanya. Adapun konsekuensi hukum dari teori ini yang tidak didustakan nash dan tidak pula dibenarkan, maka disikapi dengan poin ke-3, misalkan konsekuensi hukum bahwa teori ini secara tidak langsung memberi pemahaman bahwa benda-benda langit semuanya tercipta dari gumpalan massa yang super panas tersebut; terdapat banyak galaksi di luar galaksi kita yang tak terhitung jumlahnya; dan seterusnya.


0Shares