Dua tahun ke belakang, kita digegerkan dengan munculnya beberapa informasi di media masa tentang pembulian terhadap guru, kekerasan terhadap guru, bahkan ada yang sampai tega membunuh seorang guru. Pelakunya bukanlah orang asing dari guru guru tersebut, melainkan muridnya sendiri, anak anak yang telah dibina, dididik dan dibimbing oleh para guru untuk menjadi kebanggaan agama, nusa dan bangsa. Sebagai bukti nyata, dikutip dari berita online CNN Indonesia Nasional yang terbit 08 Maret 2018, Pengadilan Negeri Sampang, Jawa Timur, memvonis HI, siswa SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, terdakwa kasus pembunuhan gurunya. HI dinyatakan bersalah karena telah melakukan penganiayaan kepada gurunya sendiri hingga menyebabkan yang bersangkutan meninggal dunia. Pada tahun 2019, kekerasan dan pelecehan siswa terhadap guru masih terus terjadi. Contohnya kasus yang terjadi di Gresik. Seorang guru honorer bernama Khalim ditantang oleh murid SMP Wringianom. Sang murid bahkan tak segan mencengkram kerah baju dan menentang Khalim. Na’udzubillah.

Kenapa degradasi moral di kalangan pelajar cukup masih terjadi di zaman modern ini? Kenapa guru bisa menjadi objek pembulian dan kekerasan oleh siswa?

Kedua pertanyaan di atas menjadi intropeksi dasar kita selaku civitas akademika. Dimana letak akar permasalahannya? Kenapa peristiwa ini semakin masih terjadi? Apakah permasalahan tersebut ada pada guru atau siswa?. Pertanyaan tersebut perlu dianalisis dan ditemukan jawabannya, karena jikalau seorang guru hanya berasumsi bahwa tugasnya hanyalah sebagai pengampu bidang studi tertentu di sekolah, ia merasa keberatan untuk terlibat aktif dalam mengontrol moral dan sikap murid, percayalah kejadian seperti ini tidak akan pernah menemukan titik akhir.

Perlu hendaknya kita berkaca kembali dari sejarah kehidupan Rasulullah, mengambil hikmah dari kehidupan sang tauladan serta meneliti cara rasul menyampaikan wahyu dan memberikan pengajaran kepada para sahabat. Dengan menjadikan rasul sebagai patokan dalam mendidik, kita akan dapati bahwa cara yang pernah rasul terapkan dalam mendidik para sahabat  terbukti ampuh dalam menumbuhkan kedekatan batin dan emosional dengan guru.

Tak bisa dipungkiri, tinta emas sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah telah sukses menjadi seorang guru dan pendidik bagi para sahabat. Di masjid nabawi nabi selalu menghidupkan lentera keilmuan, nabi dan para sahabat duduk dalam suatu halaqoh, kaki dan pundak para sahabat saling berangkulan hingga tak ada sekat dalam halaqoh tersebut. Cara belajar seperti ini dikenal dengan istilah talaqqi.

Pernah suatu ketika nabi sedang berkumpul dengan para sahabat, bercerita dan bersenda gurau, tiba tiba dari kejauhan muncul seorang yang berpakaian sangat putih, rambutnya sangat hitam dan tidak terlihat suatu tanda dari orang tersebut dia sedang dalam perjalanan panjang. Ketika dia sudah berada di dekat rasul, dia menyandarkan lututnya kepada nabi, kemudian dia letakkan telapak tanganya di atas paha nabi, setelah itu barulah ia menanyakan perilah agama kepada nabi Muhammad. Setelah berdiskusi panjang lebar dengan nabi, orang tadi pun pamit pergi. Kemudian nabi katakan kepada sahabat, orang yang datang tadi adalah Jibril. Kedatangan jibril kepada nabi Muhammad pada hari itu selain untuk menyampaikan wahyu, tapi juga untuk mencontohkan kepada sahabat adab dalam berhalaqoh dan menuntut ilmu, seharusnyalah sang murid menghilangkan sekat dengan guru dengan cara berada berdekatan dengan guru.

Kemudian, Tidaklah salah modernisasi dalam dunia pendidikan. Modernisasi banyak sekali menawarkan kemudahan, contohnya kemajuan teknologi berbasis edukasi, tersedianya e-book, tersebarnya aplikasi aplikasi pendidikan, kursus kursus daring, pembelajaran gratis via social communication tools dan beragam kemudahan lainnya. Namun, pernah ditetapkan dalam sistem pendidikan sekarang bahwa murid harus mendominasi proses pembelajaran, guru hanya terlibat 20% saja dalam prosesnya, harapannya siswa akan lebih mandiri dan independen dalam berpendapat. Jikalau diamati, sistem seperti ini belumlah tepat dipraktekkan kepada siswa SMP/SMA, secara psikologis mereka masih membutuhkan pendampingan penuh karena hormone dan kejiwaan mereka masih labil, alias belum bisa serius dan masih suka bermain.

Di zaman ini, kita membutuhkan sinergi antara sistem pendidikan yang pernah Rasulullah terapkan, di sini saya istilahkan dengan sistem pendidikan tradisionalis dengan sistem pendidikan modern yang dikembangkan pemerintah. Sistem tradisional akan mendorong terciptanya kedekatan emosional antara guru dan siswa, sistem modern pun juga menawarkan pendidikan berbasis teknologi dan standar kompetensi. Dengan memberikan koneksi dan ruang antara dua sistem pendidikan ini untuk tumbuh, berkembang dan diaplikasikan, kita akan menciptakan generasi yang memiliki akhlaqul karimah, sopan santun terhadap guru, di sisi lain keilmuan mereka akan diperkaya dengan keterlibatan teknologi digital yang sudah semakin canggih.

Sebagai solusi dari tindak kekerasan murid terhadap guru yang terbilang cukup masif terjadi, kita perlu menghidupkan kembali sistem pembelajaran talaqqi yang dulu pernah rasul terapkan, mari kita musnahkan sekat antara siswa dan guru, munculkan kedekatan psikologis, selain bertugas sebagai pengajar kita harus siap menjadi motivator, penasehat, pembimbing ataupun pemberi hukuman kepada murid.

Di momen hijrah ini, yuk kita hijrah kepada sistem pendidikan tradisionalis yang dijiwai oleh sistem pendidikan modernis.

0Shares